Laporan: Distopia Pesisir Mimika; Terkepung Lumpur Limbah Tambang PT. Freeport Indonesia

PENGANTAR

Penggunaan barang elektronik, listrik, telekomunikasi, transportasi begitu meluas, dan barang-barang yang menunjang sarana ini menggunakan tembaga. Peradaban manusia meninggalkan zaman batu dan beralih ke zaman perunggu juga berkat penggunaan tembaga. Pada awalnya, manusia menambang tembaga hanya bila kandungannya cukup tinggi di bahan yang diolah, yakni lebih 6%. Sebab peralatan masih sederhana sehingga tidak efesien menambang dan mengolah bijih dengan kandungan tembaga yang lebih rendah itu. Juga kebutuhan akannya tidak seluas pada masa modern. Namun kini, eksploitasi tembaga besar-besaran dilakukan berkat kemajuan teknologi penambangan dan ekstraksi tembaga dan mineral berharga lainnya. Dengan peralatan yang berdaya angkut besar, berdaya eksploitasi besar, penambangan tembaga dilakukan mendukung kehidupan modern yang luas penggunaannya. Bahkan kandungan bijih dibawah 2% ditambah. Hal ini tentu membuat penambangan tembaga menghasilkan limbah tambang lebih banyak per satuan logam tembaga yang dihasilkan. Kerusakan lingkungan yang luas pun terjadi. Dan penambangan tidak membuat kehidupan masyarakat sekitar lokasi penambangan dan lokasi pembuangan limbah tambah menjadi cukup modern sebagaimana di masa purbakala kebudayaan masyarakat mengalami lompatan kemajuan dari zaman batu ke masa perunggu. Kehidupan masyarakat di lokasi penambangan justru tetap terbelakang, hidup dibawah kondisi lingkungan yang memburuk akibat pembuangan limbah tambang. Hal ini perlu menjadi perhatian publik lebih luas, termasuk pemerintah agar kehidupan masyarakat lokal tetap bisa berkembang dengan daya dukung lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dokumentasi ini adalah upaya untuk mendorong perhatian publik dan pemerintah terhadap kehidupan masyarakat lokal/adat di sekitar lokasi pembuangan limbah tambang PT. Freeport Indonesia.

Terbit pada Februari 2018

Klik untuk baca keseluruhan teks pdf

Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat. 2018. Distopia Pesisir Mimika: Terkepung Lumpur Limbah Tambang PT. Freeport Indonesia  (Jakarta: AEER)