Bila CO2 PLTU Dikenakan Pungutan 6,5 Dollar Per Ton, Investasi PLTU Kalah Harga Harga Dibanding PLTB Jeneponto

–Seri  Kajian Energi  Perkumpulan AEER   (Dwi mingguan, No #7, 14 Maret 2019)–

Batubara masih mendominasi bauran energi nasional. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028 memperlihatkan tidak adanya perubahan mendasar dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam RUPTL terbaru, energi berbahan batubara masih mendominasi hingga 2028 mendatang. Jumlah energi batubara lebih besar 2,3 kali lipat dari energi baru dan terbarukan.

Dalam RUPTL 2019-2028, ada 14 pembangkit listrik batubara yang akan beroperasi di sejumlah wilayah Indonesia pada 2019 ini. Keseluruhan kapasitas dari pembangkit tersebut adalah 1.524 MW. Selama 30 tahun beroperasi, seluruh pembangkit baru ini akan membuang sekitar 250 juta ton emisi karbon dioksida ke udara.

Tabel . Perkiraan emisi karbon dioksida dan nilai investasi PLTU yang akan beroperasi tahun 2019

Nama 
PLTU
Kapasitas
(MW)
Emisi C02 thn 2020

(juta ton)[1]
Emisi CO2 30 tahun operasi

(juta ton)
Valuasi
CO2 tahun 2020
(juta USD)[2]
Valuasi
CO2

30 tahun beroperasi (juta USD)
Investasi (juta USD)
Pangkalan Susu Unit 3 dan 4 400 1,82 59,1 11,83 384,15 235
Bengkulu Unit 1 100 0,54 17,5 3,51 113,75 180[3]
Banten Lontar Unit 4 315 1,56 50,8 10,14 330,2 497,2[4]
Pantai Kura-kura (FTP1) / 2 Kalbar 28 0,15 4,8 0,97 31,2
Parit Baru (FTP1) / 1 Kalbar 100 0,54 17,5 3,51 113,75
Parit Baru – Loan China (FTP2) / 3 Kalbar Site Bky 50 0,27 8,8 1,75 57,2 72,2[5]
Kotabaru (Sinkron Barito 2019) 7 0,03 1,1 0,19 7,15
Sampit / Bagendang 50 0,27 8,8 1,75 57,2
Kalselteng-1 / IPP Kasongan 100 0,57 18,5 3,70 120,25 170[6]
Kalsel (FTP2) / TPI 200 0,99 32,4 6,43 210,6 545
Tanah Grogot 14 0,07 2,3 0,45 14,95 14,8[7]
Gorontalo (FTP1) 50 0,27 8,8 1,75 57,2 38[8]
Kendari (Ekspansi) 10 0,05 1,6 0,32 11,05
Kendari-3 100 0,54 17,5 3,51 113,75 200
Total 1.524 7,67 249,5 49,81 1.622,4 1.952,2

Selama 30 tahun beroperasi, harga emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari keseluruhan pembangkit pada tabel di atas mencapai 1,6 miliar dolar AS. Nilai ini setara dengan 10 kali investasi PLTB Tolo di Jeneponto. Pembangunan PLTB Tolo memerlukan pendanaan sekitar 160,7 juta dolar AS dengan kapasitas 72 MW. Harga emisi karbon dioksida dari keseluruhan PLTU di atas bisa menghasilkan 720 MW dari energi angin seperti PLTB Tolo.

Apabila kita menghitung investasi pembangunan PLTU pada tabel, maka semakin banyak listrik yang bisa dihasilkan dari energi terbarukan. Pada tabel, hanya sembilan pembangkit yang diperoleh nilai investasinya dengan total 1,95 miliar dolar AS. Pendanaan sebesar ini bisa membangun 12 pembangkit seperti PLTB Tolo dengan jumlah kapasitas 864 MW.

Seandainya harga emisi karbon dioksida dan nilai investasi PLTU ditujukan untuk energi terbarukan, kapasitas listrik yang dihasilkan dari angin seperti PLTB Tolo bisa lebih tinggi, yaitu 1.584 MW. Angka ini belum mengalokasikan investasi PLTU yang belum diketahui nilainya pada tabel.

Eksternalitas, seperti polusi udara, belum menjadi faktor yang dihitung dalam pembiayaan listrik di Indonesia. Tidak dimasukkan eksternalitas ke dalam pembiayaan membuat pemerintah beranggapan PLTU batubara menjadi pilihan lantaran dianggap lebih murah. Padahal, perhitungan yang dilakukan dalam tulisan ini menunjukkan sebaliknya.

International Institute for Sustainable Development telah menghitung memasukkan eksternalitas dalam pembiayaan listrik. Pada 2017 lalu, mereka merilis laporan yang memperlihatkan biaya listrik dari batubara lebih mahal dibandingkan dari energi terbarukan.[1]

Dalam RUPTL 2019-2028, pemerintah tetap menempatkan PLTU sebagai proyek andalan. Pemerintah berencana membangun 26 PLTU baru dengan total kapasitas 4474 MW. Ini menunjukkan bahwa pemerintah belum berniat meninggalkan energi kotor batubara. Selain harganya yang sesungguhnya lebih mahal, banyak laporan dan penolakan warga atas dampak merusak dari PLTU batubara. Tetapi fakta-fakta tersebut dikesampingkan oleh pemerintah. Pemerintah sudah sepantasnya menjadikan eksternalitas dari PLTU sebagai pertimbangan pokok. Menghadirkan listrik dari energi terbarukan kepada warga merupakan pilihan yang sangat mungkin dilakukan.

Catatan kaki


[1] International Institute for Sustainable Development. (2017). Financial Support for Coal and Renewables in Indonesia. Diakses dari https://www.iisd.org/sites/default/files/publications/financial-supports-coal-renewables-indonesia.pdf


[1] Perkiraan emisi karbon dioksida dihitung dengan menggunakan rumusan Global Coal Plant Tracker https://www.sourcewatch.org/index.php/Estimating_carbon_dioxide_emissions_from_coal_plants

[2] Perhitungan berdasarkan harga emisi rata-rata karbon dioksida Cina pada 2017, yaitu USD 6,5 per ton. https://www.forbes.com/sites/energyinnovation/2017/12/19/the-china-carbon-market-just-launched-and-its-the-worlds-largest-heres-how-it-can-succeed/#1681e1c77ce6

[3] Nilai investasi untuk PLTU Bengkulu adalah 360 juta dolar AS untuk kapasitas 2 x 100 MW. Tetapi yang akan beroperasi tahun ini hanya 100 MW, sedangkan sisanya akan beroperasi 2020. Kapasitas yang dihitung dalam tulisan ini hanya 100 MW, yakni yang akan beroperasi tahun ini.

[4] Total nilai investasi adalah Rp 6,7 triliun. Nilai tukar rupiah ke dolar AS pada 2016, yaitu Rp 13,473 per dolar.

[5] Nilai investasi pembangkit ini sebesar Rp 1,3 triliun untuk kapasitas 2 x 50 MW. Tetapi satu unit 50 MW telah beroperasi tahun 2018. Maka investasi yang dihitung dalam tulisan ini adalah setengah dari total kapasitas. Kurs tahun 2011 adalah Rp 9000.

[6] Nilai investasi pembangkit ini sebesar 340 juta dolar AS untuk kapasitas 2 x 100 MW.

[7] Nilai investasi pembangkit ini sebesar Rp 200 miliar. Kurs yang digunakan Rp 13.473 per dolar.

[8] Nilai investasi pembangkit ini sekitar Rp 342,7 miliar. Kurs yang digunakan Rp 9.000 per dolar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *