Provinsi Banten Hendaknya Beralih Ke Energi Terbarukan, Jangan Tertinggal dalam Energi Batubara

Banten, 9 Desember 2018 –PLTU 7 Jawa yang terletak di Kabupaten Serang, Banten, Kecamatan Kramatwatu dan  Bojonegara.

Kecamatan Bojonegara memang terkenal sebagai wilayah Industri yang cukup besar di Provinsi Banten khususnya Kabupaten Serang, salah satunya PLTU 7 Jawa yang akan beroperasi pada tahun 2019 nanti. Berbicara kondisi Kecamatan Bojonegara nyatanya cukup unik, secara geografisnya Bojonegara empunyai wilayah gunung dan laut yang bisa menjadi corak produksi masyarakat setempat sebagai nelayan dan petani, namun datanya industrialisasi secara bar-bar membuat ekosistem Bojonegara rusak, corak produksi masyarakat pun berubah dan menyerah terhadap Industri. Apa saja dampak yang ditimbulkan dan fakta lapangan di Kawasan Bojonegara.

REKLAMASI

Perusahaan atau industri yang ada di Bojonegara tidak terlepas adanya reklamasi. Reklamasi dilakukan secara masif, mobilisasi kendaraan untuk mengangkut tanah yang akan digunakan untuk menguruk laut dilakukan secara pagi dan malam. PLTU 7 Jawa yang berkapasitas 2000 MW (Mega Watt) sudah melakukan reklamasi pantai menurut pengakuan warga sebesar 40 Ha.

PERTAMBANGAN

Pertambangan yang nyata terlihat jelas ialah pertambangan bukit atau gunung sebagai penyedia stock tanah untuk reklamasi laut. Dampaknya pun akan terasa nyata mulai dari erosi, rusaknya perairan sampai tidak mampu memberikan pasokan oksigen karena habis terkeruk dan dirusak. Bisa diperkirakan reklamasi akan terus terjadi mengingat pertambangan dengan mengeruk bukit dan gunung masih masif dilakukan oleh pihak tambang.

KESEHATAN

Kesehatan menjadi paling nyata terlihat. Narasumber di daerah tersebut menyatakan, penyakit terbesar yang terjadi dan ada di puskesmas ialah penyakit paru-paru akibat banyak menghirup polusi udara, mulai dari debu jalanan akibat banyaknya kendaraan berat ke industri, debu sisa hasil galian sampai debu akibat sisa limbah udara yang dikeluarkan oleh industri.

Warga setempat masih berpikir bahwa dengan kompensasi dan dana sumbangan yang diberikan industri pada warga setempat cukup untuk mengganti atau biaya berobat, sedangkan menurut narasumber, terkait kesehatan tidak bisa dikompensasi karena kesehatan adalah hal yang mutlak.

EKONOMI KERAKYATAN

Corak produksi masyarakat Bojonegara ialah petani dan nelayan, wilayah yang diapit oleh gunung dan laut menjadi alasan kuat mengapa warga banyak bekerja sebagai sebagai petani dan nelayan.

Namun corak produksi tersebut sudah hampir-hampir tidak ada, masyarakat harus menyerah dengan menjadi pekerja di industri. Pegunungan yang rusak akibat galian atau pertambangan mengganggu perairan warga, sawah-sawah menjadi tidak produktif, laut yang telah direklamasi pun menghambat nelayan untuk mencari ikan, nelayan sudah susah mencari ikan di pinggir laut. Ekonomi masyarakat pun timpang, dengan kemampuan dan strata pendidikan yang tidak cukup sebagai kualifikasi kerja di industri harus menerima bahwa menjadi pekerja dengan bayaran rendah.

Beginilah kondisi masyarakat Bojonegara, ditambah dengan PLTU 7 Jawa yang beroperasi, dengan kapasitas 2000 MW kelak diperkirakan mengkonsumsi batubara 7 juta ton per tahun.  PLTU Jawa 7 tergolong sangat besar, sehigga lalu lintas kapal pengangkat batubara akan ramai di wilayah perairan nelayan. Selain itu, PLTU ini diperkirakan akan menggunakan air sebanyak 1,9 meter kubik per tahun yang dilepas ke wilayah pesisir.

Dunia sedang gencar dan sibuk terkait perubahan iklim dan dampak gas rumah kaca tetapi Indonesia belum membatasi investasi termasuk investasi dari luar negeri untuk sektor energi yang mengeluarkan gas rumah kaca  yang tinggi, seperti PLTU Jawa 7.

Mentri Keuangan Sri Mulyani  sendiri dalam minggu ini menyatakan, perguruan tinggi harus vokal terhadap isu perubahan iklim. Namun, kenyataan di lapangan di sektor energi, dukungan investasi masih kuat dilakukan terhadap pembangkit listrik batubara.

Memang pemerintah juga harus menyediakan pasokan energi listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia. Namun bukan dengan mendirikan PLTU yang menggunakan energi fosil, apalagi  hanya berpusat di Pulau Jawa saja. Provinsi Banten sudah banyak PLTU yaitu PLTU Suralaya unit 1-7 (34000 MW), PLTU Suralaya Unit 8 (625 MW), PLTU Lestari Banten Energi (670 MW), PLTU Merak Station (120 MW), PLTU Labuan Unit 1-2 (300 MW), PLTU Lontar Unit 1-3 (945 MW) sedangkan dalam perencanaan ialah PLTU Asahimas Chemical (300 MW), PLTU Jawa 7 (2000 MW), PLTU Lontar EXP (315 MW) dan  rencana PLTU Jawa 9 (1000 MW)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *